Berbusana dan Berbudaya Bersama #IndonesiaBerkebaya

0
222
Sumber: Dokumentasi Museum Nasional

“Tapi manusia bukan cetakan tunggal dari adam di atas bumi, yang ditaruh dalam gelas, tanpa sejarah, tanpa keterlanjutan budaya.” – Goenawan Mohamad.

Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia memiliki tujuan untuk menggaungkan kembali budaya nusantara. Gerakan Indonesia Berkebaya merupakan salah satu cara yang ditempuh untuk membawa busana nasional ini kembali digemari. Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia berusaha mendekatkan kembali kebaya dalam kehidupan perempuan Indonesia.

“Dari dulu kan kebaya sudah ada, dari sejak nenek moyang. Kebaya sebenarnya menjadi busana yang mendampingi kemerdekaan. Kita harap akan ada Hari Kebaya seperti hari Batik,” ucap Rahmi Hidayati selaku pendiri Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia.

Bertemakan Sebuah Ruang Diskusi untuk Melestarikan Kebaya Indonesia yang dilaksanakan di Museum Nasional Indonesia (16/7), Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia memberikan edukasi kepada pesertanya mengenai kebaya. Semakin mengenal kebaya yang merupakan bagian dari budaya bangsa, diharapkan juga para peserta akan semakin lebih bangga dan mengenal budayanya sendiri.

Tidak hanya sekadar diskusi budaya, Auditorium Gedung B Museum Nasional juga diramaikan oleh stan-stan yang menjual pelbagai macam produk-produk terkait kebaya,seperti aksesoris, bros, hingga kebaya itu sendiri. Adapula jenis-jenis kebaya nasional yang dipamerkan di acara ini, yaitu kebaya kartini, kutubaru dan encim.

Acara yang juga dihadiri oleh Dirjen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Hilmar Farid, juga memutarkan film Perempuan Berkebaya. Film yang bercerita mengenai perjalanan kebaya dari waktu ke waktu, semakin menjelaskan bagaimana pentingnya kebaya sebagai budaya bangsa dan identitas perempuan Indonesia.

Acara yang dihadiri oleh para wanita yang terlihat anggun dengan balutan kebaya ini memiliki tiga tujuan utama dan salah satu diantaranya adalah menggaungkan ‘Selasa Berkebaya’ untuk menjadi lebih masif lagi. Selasa Berkebaya adalah sebuah ajakan, khususnya untuk para perempuan, untuk menggunakan kebaya pada setiap hari selasa.

Selayaknya batik, kebaya sebagai salah satu budaya bangsa juga berhak untuk menjadi ratu di negaranya sendiri. Jika hari Jumat identik dengan hari batik, maka kebaya diharapkan akan menjadi mode busana pada hari Selasa. Bahkan, tidak hanya satu kali seminggu, Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia juga berharap agar kebaya bisa ditetapkan menjadi warisan budaya Indonesia oleh UNESCO.

“Saya selalu ditanya sulitnya pakai kebaya oleh teman-teman, namun karena saya sudah terbiasa dan sudah tau celah-celahnya, jangankan untuk sehari-hari, untuk naik gunung pakai kebaya pun saya sanggup,” lanjut Rahmi yang berkomitmen untuk mengenakan kebaya pada tiap kegiatannya.

Indonesia Berkebaya tidak hanya dihadiri oleh para pegiat, aktivis dan komunitas saja, seorang perencang busana Indonesia pun turut hadir. Adalah Musa Widyatmodjo, seorang perancang busana yang terinspirasi dari busana-busana nasional Indonesia yang kemudian membawa baju nasional menjadi naik tingkat.

“Inovasi itu boleh-boleh saja, asal inovasi yang bertanggung jawab. Jangan sampai inovasi justru merusak dan mengobrak-abrik pakem yang sudah ada,” tutur Musa terkait inovasi kebaya modern yang kian berkembang.

Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid, sangat mengapresiasiakan adanya komunitas serta acara yang dilakukan untuk kepentingan pelestarian budaya bangsa. Menurutnya, kegiatan semacam ini memang sangat dibutuhkan untuk tetap menjaga budaya bangsa agar tidak hilang.

“Pernah sekali waktu saya melihat anak sekolah menggunakan kebaya, itu suatu permulaan yang bagus sekali ya. Akan lebih baik lagi jika memang ditetapkan ada hari Kebaya Nasional,” ujarnya yang sore itu ikut berpartisipasi lengkap dengan mengenakan baju daerah.

Edukasi mengenai kebudayaan bangsa sudah seharusnya diwariskan dan diajarkan secara turun menurun. Ketika generasi muda mengenal budayanya dengan baik, maka budaya bangsa akan tetap terjaga kelestariannya dari masa ke masa.