Mahkota Kesultanan Banten

0
115

Kejayaan dan keberagaman budaya Kesultanan Banten dapat terlihat dari ragam hias mahkota yang terinspirasi dari berbagai budaya. Hal ini terlihat dari motif sulur daun serta pohon hayat yang distilir sedemikian rupa.  Pada bagian puncak berbentuk kuncup bunga teratai menyerupai bentuk wajra yang dalam ajaran Hindu menyimbolkan sebuah pencerahan. Wilayah Banten bisa disebut strategis karena letaknya dekat dengan Selat Sunda dan menjadikannya sebagai gerbang bagi para pedagang dari luar Nusantara, seperti dari wilayah Asia dan Eropa. Banten sudah berada pada posisi penting dalam rute perdagangan dunia sejak abad ke-7, saat Banten menjadi pelabuhan kedua dari Kerajaan Sunda. Islam pertama kali masuk ke Banten dibawa oleh pedagang Arab. Selanjutnya Sunan Ampel dari Demak dan Sunan Gunung Jati dari Cirebon berperan penting dalam menyebarkan agama Islam di wilayah Banten. Menjelang abad ke-16, Kesultanan Banten memegang peranan penting dalam perkembangan penyebaran agama Islam di Nusantara. Kesultanan Banten tampil sebagai pusat pemerintahan yang bercorak Islam dan merupakan pusat perdagangan antarbangsa.

Mahkota emas bertabur permata, berlapis perak ini milik raja Banten, kesultanan di ujung barat pulau Jawa. Karya indah bermotif floral khas Islam. Konon dipakai sejak raja kedua, pada seribu lima ratus lima puluh dua.

Banten adalah kota-bandar perdagangan yang bersemi di abad ketujuh belas. Dia berada di Selat Sunda, pintu masuk Jawa dan pulau rempah di timur nusantara. Pedagang Arab, India, China, dan kelak Eropa memenuhi pasar-pasarnya. Mengincar rempah, utamanya lada yang jadi produk unggulannya. Semangat perdagangan bebas dan diplomasi internasional dipelihara para Sultan, termasuk dengan mengirimkan rombongan duta besar ke London Inggris. Rajanya yang paling sohor, Sultan Ageng Tirtayasa manfaatkan kemakmurannya membangun infrastruktur kota dan benteng dengan batuan dan tembok. Bangun jaringan irigasi untuk airi sawah-sawah yang baru dibuka dan istana-istananya. Dengan kemakmuran itu, beberapa karya sastra abad ketujuh belas dan delapan belas di Eropa mengabadikan sosok sultan dan kotanya sebagai simbol kemakmuran di belahan timur dunia.

Banten kehilangan kemerdekaannya menyusul perang saudara antara Sultan Ageng dan anaknya sendiri, yang dibantu Kongsi dagang Belanda VOC. Perlahan Belanda menguasai dan kelak menghancurkan istananya, menyingkirkan rajanya, dan menjarah mahkota ini. Setelah tiga abad Kesultanan Banten pun runtuh.