MENGENAL NENEK MOYANG MELALUI KAJIAN SAINS POPULER; MENGUAK ASAL-USUL MANUSIA INDONESIA

0
802
Sumber: Dokumentasi Museum Nasional

Pernahkah anda mendapat atau bertanya tentang daerah asal seseorang? Garis keturunan seseorang? Atau bahkan karena rupa fisiknya yang mencerminkan suatu suku tertentu, anda memanggilnya dengan panggilan suku tersebut?

Our ability to reach unity in diversity will be the beauty and the test of our civilisation. - Mahatma Gandhi.
(Kemampuan kita untuk mencapai kesatuan dalam perbedaan akan menjadi keindahan dan ujian pada peradaban kita)

Semua manusia modern yang hidup pada saat ini berasal dari Afrika. Bagaimana bisa? Semuanya terjadi akibat migrasi nenek moyang yang terjadi pada ratusan ribu tahun yang lalu. Nyatanya, tidak ada seorang pun yang murni berasal dari suatu suku tertentu.

Kepustakaan Populer Gramedia menyelenggarakan diskusi mengenai siapakah kita sebenarnya. Kajian Sain Populer dengan mengangkat tema Asal Usul Manusia Indonesia ini diisi oleh Ahmad Arif, wartawan Kompas yang juga penulis buku, dan Herawati Supolo-Sudoyo, peneliti genetika molekul. Keduanya menjelaskan materi secara sederhana dan mudah dipahami.

Ahmad Arif dalam kesempatan ini menjelaskan makna menjadi manusia Indonesia. Berdasarkan pada penafsiran terhadap Ernst Mayr, Richard Leakey, dan Matt Ridley, Arif memaparkan bagaimana awal mula kehidupan manusia modern. Mulai dari perjalanan nenek moyang ratusan ribu tahun yang lalu hingga peradaban kita saat ini dikupas tuntas dalam pembicaraan di ruang Auditorium gedung B, Museum Nasional.

Jika menilik jauh ke belakang, secara khusus, Indonesia berasal dari dua garis keturunan yakni Neanderthal (Indonesia bagian barat) dan Denisova (Indonesia bagian timur). Jadi, bisa dikatakan bahwa semua manusia di Indonesia berasal dari satu keturunan yang sama.

Hal ini menguatkan bahwa pada hakikatnya, semua manusia modern merupakan satu keturunan yang sama berkaca pada sejarah peradaban nenek moyang. Kita semua adalah sapiens yang berawal dari leluhur yang muncul di Afrika 300.000 tahun yang lalu. Semua adalah sama, tidak ada yang berbeda. Maka, tidak ada lagi alasan untuk membedakan suatu individu dengan individu lain, suku satu dengan suku yang lain, serta golongan yang satu dengan golongan lainnya.

Di lain sisi, Herawati mengangkat mengenai bagaimana DNA manusia dan perjalanan DNA itu sendiri. DNA (Deoxyribonucleic Acid) adalah kode kehidupan sepanjang 3 milyar yang mencirikan orang tua dan asal-usul keturunan. Melalui DNA mitokondria, manusia dapat dilacak asal-usulnya melalui garis keturunan ibu hingga pada populasi ratusan ribu tahun yang lalu. Mulai dari asal nenek moyang, bagaimana penyebarannya, hingga berbagai etnis yang ada di dalam keturunan seseorang.

Pertanyaan yang mungkin akan muncul selanjutnya adalah jika kita semua merupakan satu keturunan yang sama, mengapa bentuk fisik antara satu etnis dengan yang lainnya berbeda? Variasi fisik dibentuk pada saat nenek moyang beradaptasi dengan lingkungannya. Berdasarkan analisis DNA dari fosil Cheddar Man yang ditemukan di gua Gough, Inggris, justru menunjukan tidak ada varian genetika manusia berkulit dan berambut terang. Munculnya genetik manusia berkulit dan berambut terang disebabkan oleh adaptasi untuk membantu menyerap cahaya ultraviolet agar tidak kekurangan vitamin D di iklim bercahaya kurang.

Nenek moyang beradaptasi dengan berbagai keadaan lingkungan hingga pada akhirnya memengaruhi bentuk fisik. Variasi fisik inilah yang menjadi genetik yang dibawa oleh manusia modern sekarang. Fisik memang bisa berbeda-beda, tetapi semua manusia modern adalah berasal dari satu nenek moyang yang sama. Kita semua sama, kita semua keluarga.