Mengenal Warisan Budaya Dunia melalui Museum Keliling

0
479

 

Museum Nasional memamerkan wayang yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya UNESCO (Foto : Mulyadi)
Beragam aktivitas dapat dilakukan di Museum Keliling, misalnya melukis kendi (Foto : Mulyadi)

Museum Nasional sebagai museum terbesar di Indonesia dengan jumlah lebih dari 169.367 koleksi menyelenggarakan Museum Keliling setiap tahun. Mengangkat tema “Mengenal Warisan Budaya Dunia melalui Koleksi Museum Nasional”, pada tahun ini Museum Keliling diselenggarakan di Soreang, Kabupaten Bandung. Diharapkan melalui Museum Keliling, Museum Nasional dapat lebih dekat dengan masyarakat, khususnya yang sulit memeroleh akses ke Museum Nasional yang terletak di pusat kota Jakarta.

Dalam pelaksanaan Museum Keliling, Museum Nasional mengajak UPT Kemdikbud lain, yaitu Museum Vredeburg, untuk berpartisipasi dalam Museum Keliling.  Museum Nasional juga bekerja sama dan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bandung untuk menghadirkan lebih dari 5000 peserta.  Kabupaten Bandung yang berada cukup dekat dengan Jakarta dianggap memiliki pengunjung potensial untuk berkunjung ke Museum Nasional.

Dibuka oleh Wakil Bupati Kabupaten Bandung dan dihadiri oleh Kepala Museum Nasional, Museum keliling 2018 dihadiri oleh 5140 peserta.  Melalui tema “Mengenal Warisan Budaya Dunia melalui Koleksi Museum Nasional” ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman terkait warisan budaya milik Indonesia yang telah diakui UNESCO kepada masyarakat.  Menjaga dan melestarikan warisan budaya yang bernilai tinggi ini tidak lagi menjadi tugas pemerintah semata, namun tugas yang kini juga diemban oleh masyarakat, khususnya generasi muda, yang nantinya mewariskan kekayaan dan keragaman budaya ini kepada generasi berikutnya.

Sejumlah koleksi Museum Nasional yang merupakan bagian dari warisan budaya dunia yang telah ditetapkan UNESCO dipamerkan dalam kegiatan ini.  Koleksi-koleksi tersebut antara lain batik, wayang, dan keris dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, noken dari Papua, angklung dari Jawa Barat.

Selain pamera, juga diberikan paparan pengenalan Museum Nasional. Materi ceramah sepanjang 20 menit ini berisi tentang sejarah singkat Museum Nasional dan informasi mengenai warisan budaya milik Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO.  Usai kegiatan ceramah, dilakukan kuis berhadiah dengan pertanyaan seputar Museum Nasional dan warisan budaya milik Indonesia.

Dalam sesi nonton film, anak-anak disuguhi film pendek Panji Semirang.  Film yang bersumber dari cerita rakyat asal Jawa Timur ini mengandung cerita kepahlawanan dan kesetiaan yang layak ditonton oleh anak-anak.  Sesuai tema Museum Keliling 2018, cerita rakyat ini dipilih karena telah ditetapkan menjadi Memory of The World UNESCO.

Kak Adi dan Paman Gerry turut meramaikan Museum Keliling 2018 dengan kegiatan mendongeng di Gedung Auditorium.  Informasi tentang budaya Indonesia disajikan secara naratif, interaktif, dengan sisipan pesan moral sesuai kearifan lokal.  Kegiatan mendongeng ini menjadi salah satu kegiatan favorit Museum Keliling yang dapat mengundang keriuhan dan keriangan anak-anak.

Berbeda dengan Museum Keliling 2017, pada tahun ini Museum Vredeburg turut berpartisipasi mengirimkan koleksinya.  UPT Kemdikbud tersebut memamerkan koleksi keris dan batik yang dapat mewakili kekhasan wilayahnya, yaitu Yogyakarta.  Anak-anak berkeliling pameran dan dibekali LKS dalam format teka-teki silang untuk diisi sepanjang kegiatan.

Di selasar Timur, anak-anak dapat mengikuti workshop membatik.  Daromi yang merupakan purnabakti Museum Nasional sejak 2012 telah bertahun-tahun membuka workshop di Museum Nasional untuk memperkenalkan teknik membatik seperti canting, wajan kecil, kompor listrik, malam, kain mori, pigura, kuas, dan pewarna, anak-anak diajari cara memegang canting, meniup malam, dan menggoreskannya ke atas kain.  Kain mori sepanjang lima meter yang telah dilukis dengan malam juga digelar untuk diwarnai bersama-sama.  Dalam Museum Keliling 2018, anak-anak dapat merasakan pengalaman dan belajar langsung dengan ahlinya.

Bersebelahan dengan workshop membatik, diadakan lomba melukis di atas media celengan dan wadah pensil.  Dalam kegiatan ini, dua orang perwakilan dari setiap sekolah berpartisipasi dalam lomba untuk mendapatkan hadiah menarik.  Tiga karya terbaik per sesi memperoleh tas punggung berlogo Museum Nasional berisi buku cerita anak dan pensil boneka.

Menjadi sebuah kebanggan bagi Museum Nasional yang merupakan bagian dari naungan Direktorat Jenderal Kebudayaan, dapat menjadi nechmark dan sumber inspirasi instansi terkait lain di seluruh Indonesia untuk memperkenalkan museum kepada masyarakat.  Diharapkan kegiatan ini dapat menjadi kegiatan tambahan dalam proses pembelajaran di sekolah agar tercipta kegiatan interaktif yang bernilai edukatif dan rekreatif

(Penulis Nurul Indrarini dalam Warta Museum Tahun XIII No. 13 Tahun 2018)