Wayang: Merentang Masa, Merawat Makna

0
14

Wayang secara harfiah berarti ‘bayangan’, merujuk pada pertunjukan yang memanfaatkan bayangan tokoh di balik layar putih yang disebut kelir. Secara luas, wayang merupakan seni pertunjukan tradisional yang menggunakan beragam media untuk menghadirkan tokoh dan menyampaikan cerita atau lakon. Medianya meliputi boneka dari kulit atau kayu, gambar pada lembaran yang dibentangkan, kertas, suket (rerumputan), hingga manusia sebagai pemeran. Dalam pertunjukannya, dalang berperan menghidupkan tokoh dan menyampaikan cerita, sering kali dengan iringan musik.

Istilah wayang tercatat dalam Prasasti Wukajana dari tahun 907 Masehi melalui ungkapan mawayang buatt Hyang, yang merujuk pada pertunjukan wayang untuk Hyang atau leluhur dengan lakon Bima Kumara. Gambaran pertunjukan wayang yang menggunakan boneka kulit berbentuk manusia, dapat digerakkan, dan seolah-olah berbicara melalui tuturan dalang ditemukan dalam Kakawin Arjunawiwaha dari abad ke-11 Masehi.

hanānonton ringgit manangis āsĕkĕl muḍha hiḍĕpan, huwus wruh towin jan walulang inukir malah angucap hatur ning wang trĕsnêng wiśaya malahā tan wwihikana ri tatwanyān māyā sahana-hananing bhāwa siluman.

Orang yang menonton wayang menangis, kagum, dan sedih hatinya, meskipun sudah tahu bahwa yang ditonton itu hanyalah kulit yang dipahat, diberi bentuk manusia, dapat bertingkah dan berbicara. Yang menonton ibarat orang yang tamak akan harta dunia yang nikmat, akibatnya mereka terjerat hatinya, tidak tahu bahwa sebenarnya hanya bayangan saja yang tampil laksana siluman atau sulapan belaka.
(Kakawin Arjunawiwaha Pupuh 5.9, karya Mpu Kanwa).

Selain haringgit, juga dikenal seni pertunjukan lainnya seperti yang terdokumentasi dalam Prasasti Kuti (tinulad), yaitu hanapuka dan hatapukan (pertunjukan topeng), abañol (lawak/dagelan), warahan, kecaka (yang mungkin berkaitan dengan tari kecak), tarimba (penari/tari tarimba?), serta śalahan. Istilah haringgit dan awayang terus digunakan untuk menyebut pertunjukan wayang di masa kemudian. Kata ringgit tetap digunakan dalam bahasa Jawa Baru ragam krama inggil sebagai sebutan untuk wayang.  

Pada awal perkembangannya, pertunjukan wayang berkaitan dengan ritual dan pemujaan leluhur. Persentuhannya dengan kepercayaan Hindu-Buddha memperkaya repertoar cerita, antara lain melalui kisah Mahabharata dan Ramayana. Wayang juga berkembang dengan mengangkat cerita lokal, seperti Panji dan Damarwulan. Pada masa Islam, wayang turut dimanfaatkan sebagai media dakwah melalui penyesuaian cerita, bentuk, dan penyajiannya.

Seiring waktu, wayang berkembang dalam beragam jenis dengan lakon, bentuk, dan bahan pembuatan yang berbeda. Berdasarkan lakonnya, Wayang Purwa mengangkat wiracarita Mahabharata dan Ramayana; Wayang Gedhog mengisahkan cerita Panji; Wayang Krucil mengangkat kisah Damarwulan–Menak Jingga; dan Wayang Menak bersumber dari Serat Menak. Terdapat pula Wayang Wahyu yang mengangkat kisah dari Alkitab, Wayang Suluh atau Wayang Revolusi yang menyampaikan tema pergerakan nasional, serta Wayang Kancil yang menyajikan cerita tentang hewan. Dari segi bentuk dan bahan, dikenal Wayang Kulit yang dibuat dari kulit sapi, kerbau, atau kambing; Wayang Beber berupa gambar pada kain yang dibentangkan; Wayang Golek berbentuk tiga dimensi dari kayu; Wayang Kertas yang terbuat dari kertas; Wayang Klitik berbentuk pipih dari kayu; serta Wayang Suket yang dirangkai dari rumput. Keragaman ini memperlihatkan kemampuan wayang untuk mengadaptasi berbagai sumber cerita, media, dan kebutuhan masyarakat.

Dalam kehidupan masyarakat, wayang menjadi bagian dari adat sekaligus wahana ekspresi seni dan budaya. Selain berfungsi sebagai hiburan, wayang merupakan sarana penyampaian nilai filosofis, pendidikan moral, pesan sosial, dan kritik terhadap kehidupan masyarakat. Berkembang di Jawa dan berbagai wilayah Nusantara, wayang hadir dalam beragam tradisi yang mencerminkan kekayaan budaya Indonesia. Wayang diakui UNESCO sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity pada 2003, kemudian dimasukkan ke dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan pada 2008. Hingga kini, wayang terus berkembang dan beradaptasi, mempertahankan relevansinya di tengah perubahan zaman.

Wayang: Spanning Time, Keeping Meaning Alive

The word wayang literally means “shadow,” referring to performances in which the shadows of figures are cast onto a white screen called a kelir. More broadly, wayang is a traditional performing art that employs various media to portray characters and tell stories or enact narratives known as lakon. These media include leather or wooden puppets, images displayed on extended scrolls, paper, suket (grass), and even human performers. In a performance, the dalang (puppeteer and storyteller) brings the characters to life and narrates the story, often accompanied by music.

The term wayang is recorded in the Wukajana Inscription, dated 907 CE, in the expression mawayang buatt Hyang, referring to a wayang performance held for the Hyang, or ancestral spirits, featuring the story of Bima Kumara. A description of a wayang performance using human-shaped leather puppets that can be moved and appear to speak through the dalang’s narration is found in the eleventh-century CE Kakawin Arjunawiwaha

hanānonton ringgit manangis āsĕkĕl muḍha hiḍĕpan, huwus wruh towin jan walulang inukir malah angucap hatur ning wang trĕsnêng wiśaya malahā tan wwihikana ri tatwanyān māyā sahana-hananing bhāwa siluman.

Translation: Those who watch a wayang performance weep, marvel, and feel sorrow in their hearts, even though they know that what they are watching is merely carved leather shaped like human figures, able to move and speak. The spectators are like those who greedily desire the pleasures of worldly wealth; consequently, their hearts become ensnared, and they fail to realize that what appears before them is nothing more than shadows, like apparitions or mere illusions.

(Kakawin Arjunawiwaha, by Mpu Kanwa).

In addition to haringgit (wayang puppet performance), other forms of performing arts are recorded in the Kuti Inscription (tinulad), including hanapuka and hatapukan (mask performances), abañol (comedy or clowning), warahan, kecaka (possibly related to the Kecak dance), tarimba (possibly referring to a performer or a type of dance), and śalahan. The terms haringgit and awayang continued to be used to refer to wayang performances in later periods. The word ringgit remains in use in Modern Javanese as a krama inggil (high-register honorific) term for wayang.

In its early development, wayang performances were associated with rituals and ancestor worship. Contact with Hindu-Buddhist cultures enriched its repertoire of stories, including the Mahabharata and the Ramayana. Wayang also evolved to incorporate local narratives, such as the Panji and Damarwulan stories. During the Islamic period, wayang was also used as a medium for religious propagation (dakwah), with adaptations to its stories, forms, and modes of presentation.

Over time, wayang developed into various forms, distinguished by their stories, designs, and materials. In terms of narrative, Wayang Purwa draws on the Mahabharata and the Ramayana; Wayang Gedhog tells the Panji stories; Wayang Krucil depicts the Damarwulan–Menak Jingga story; and Wayang Menak is based on the Serat Menak. Other forms include Wayang Wahyu, which presents stories from the Bible; Wayang Suluh, or Wayang Revolusi, which conveys themes related to the national independence movement; and Wayang Kancil, which features animal stories. In terms of form and materials, Wayang Kulit is made from cow, buffalo, or goat hide; Wayang Beber consists of images painted on cloth that is unrolled during performances; Wayang Golek comprises three-dimensional wooden puppets; Wayang Kertas is made of paper; Wayang Klitik consists of flat wooden puppets; and Wayang Suket is crafted from grass. This diversity demonstrates wayang’s ability to adapt to different narrative sources, materials, and community needs.

In community life, wayang forms part of customary traditions and serves as a medium for artistic and cultural expression. Beyond entertainment, it conveys philosophical values, moral education, social messages, and criticism of society. Found in Java and various other parts of the Indonesian archipelago, wayang encompasses diverse traditions that reflect Indonesia’s rich cultural heritage. In 2003, UNESCO proclaimed wayang a Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity. In 2008, it was inscribed on the Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity. To this day, wayang continues to evolve and adapt, maintaining its relevance amid changing times.