Wayang kulit gaya Yogyakarta ini menampilkan tokoh-tokoh dalam epos Mahabharata yang mengisahkan perselisihan antara Pandawa dan Kurawa, dua kelompok keturunan Dinasti Kuru yang memperebutkan takhta kerajaan. Pandawa terdiri atas Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa, sedangkan Kurawa dipimpin oleh Duryodana, bersama saudara-saudaranya, termasuk Dursasana dan Wikarna. Perselisihan ini mencapai puncaknya dalam Perang Bharatayuddha di Kurukṣetra.
Kisah Mahabharata menyampaikan refleksi tentang pilihan moral, tanggung jawab, keadilan, dan konsekuensi dari ambisi serta keserakahan. Nilai-nilai ini tercermin dalam Bhagavadgītā, bagian dari Mahabharata yang memuat ajaran Kṛṣṇa kepada Arjuna mengenai dharma (kewajiban moral), tindakan, dan keteguhan dalam menjalankan tanggung jawab. Epos ini mengingatkan bahwa menegakkan kebenaran tidak selalu mudah, sebab setiap pilihan menuntut pertimbangan moral dan kesediaan menghadapi konsekuensinya. Kemenangan Pandawa dalam Bharatayuddha pun tidak lepas dari besarnya kehilangan dan kehancuran akibat perang. Dengan demikian, Mahabharata bukan sekadar kisah perebutan kekuasaan, melainkan juga perenungan tentang perjuangan menegakkan dharma di tengah konflik kepentingan dan dilema kehidupan.
Wayang kulit gaya Yogyakarta, dikenal sebagai gagrag Ngayogyakarta, memiliki ciri khas yang terlihat pada bentuk tubuh, tatahan, sunggingan, serta busana dan atribut tokohnya. Bentuk tubuh sejumlah tokoh cenderung pendek dan kekar, dengan posisi kaki yang lebar sehingga memberikan kesan kokoh dan dinamis. Lengan wayang umumnya panjang hingga mendekati kaki.
Kekhasan lainnya tampak pada tatahan kulit, antara lain pola inten-intenan yang menyerupai bentuk permata dan menghiasi bagian busana serta aksesori wayang. Pada pewarnaannya, gaya Yogyakarta dikenal dengan teknik sungging tlancap, berupa pola segitiga runcing yang menyerupai motif tumpal. Penggunaan warna emas atau prada pada bagian tertentu turut mempertegas keindahan ornamen dan busana tokoh. Ciri lainnya terlihat pada bagian lemahan, yaitu ruang di antara kaki depan dan belakang, yang umumnya diberi warna merah.
Selain tercermin pada bentuk visual wayangnya, gaya Yogyakarta juga hidup dalam tradisi pedalangan yang mencakup teknik menggerakkan wayang, membawakan dialog, mengatur adegan, serta memadukan cerita dengan iringan gamelan.
Yogyakarta-Style Wayang Kulit: Characters from the Mahabharata
This Yogyakarta-style wayang kulit features characters from the Mahabharata, an epic recounting the conflict between the Pandavas and the Kauravas, two groups of descendants of the Kuru dynasty who vie for the royal throne. The Pandavas comprise Yudhistira, Bhima, Arjuna, Nakula, and Sahadeva, while the Kauravas are led by Duryodhana, alongside his brothers, including Dushasana and Vikarna. Their conflict reaches its climax in the Bharatayuddha, the great war fought at Kurukshetra.
The Mahabharata offers reflections on moral choices, responsibility, justice, and the consequences of ambition and greed. These values are explored in the Bhagavad Gita, a section of the Mahabharata that presents Krishna’s teachings to Arjuna on dharma (moral duty), action, and steadfastness in fulfilling one’s responsibilities. The epic reminds us that upholding righteousness is not always easy, as every choice requires moral consideration and a willingness to face its consequences. Even the Pandavas’ victory in the Bharatayuddha comes at the cost of immense loss and devastation caused by war. Thus, the Mahabharata is not merely a tale of a struggle for power, but also a reflection on the struggle to uphold dharma amid competing interests and life’s dilemmas.
Yogyakarta-style wayang kulit, known as gagrag Ngayogyakarta, is distinguished by the forms of its figures, their carved patterns (tatahan), painted ornamentation (sunggingan), and the costumes and attributes of its characters. Many figures have relatively short, stocky bodies, with widely positioned legs that convey a sense of solidity and dynamism. The arms of the puppets are generally long, extending almost to their feet.
Another distinctive feature is the leather carving, which includes inten-intenan patterns resembling gemstones that adorn the puppets’ clothing and accessories. In terms of coloration, the Yogyakarta style is known for the sungging tlancap technique, which uses pointed triangular patterns resembling the tumpal motif. The use of gold or prada on selected areas further enhances the beauty of the figures’ ornamentation and costumes. Another characteristic can be seen in the lemahan, the space between the front and rear legs, which is generally painted red.
Beyond the puppets’ visual characteristics, the Yogyakarta style is also sustained through the pedalangan tradition, which encompasses techniques for manipulating the puppets, delivering dialogue, arranging scenes, and integrating the narrative with gamelan accompaniment.











