Simbol keramahtamahan dalam tradisi menginang

0
278

Tradisi mengunyah ramuan sirih pinang (menginang) merupakan salah satu bentuk keramah tamamahan universal di Asia. Di Indonesia tradisi menginang dinikmati oleh berbagai kalangan mulai dari anak muda, orang tua, rakyat biasa hingga kalangan istana. Dibeberapa pulau di Indonesia suguhan sirih pinang tidak hanya disajikan untuk orang yang masih hidup namun juga menjadi suguhan dalam upacara penguburan dan sesaji bagi para leluhur dalam berbagai upacara adat. Masyarakat umum biasanya menggunakan peralatan pekinangan dari anyaman atau logam sementara kalangan istana menggunakan wadah yang terbuat dari emas dan perak.

Hampir setiap suku di Nusantara mengenal kebiasaan makan sirih. Tradisi menyirih berperan penting dalam kesehatan, kegiatan sosial dan upacara. Sirih dan pinang dinilai sebagai obat yang mengandung antiseptik serta sebagai barang kenikmatan. Oleh tuan rumah, sirih dan pinang dijadikan sebagai tanda keramahtamahan dan sopan santun dengan menyajikannya kepada tamu. Selain itu, sirih dan pinang disajikan dalam berbagai upacara, terutama dalam upacara pemujaan leluhur. Penyajian menyirih memerlukan daun sirih (Piper betle), pinang (Areca catechu), kemudian ditambah dengan ramuan lainnya, seperti kapur sirih (Calcium exyde) dan gambir (Unracia gambir).

Keberadaan pekinangan pun menjadi bagian regalia milik Kesultanan Palembang. Satu set peralatan pekinangan ini terdiri dari kotak bertutup, tiga buah cupu dan sebuah kacip. Peralatan pekinangan asal Palembang ini memiliki bentuk, bahan, serta gaya seni berkualitas tinggi, yakni desain yang halus namun rumit khas Palembang. Lantas, bagaimana regalia ini menjadi koleksi Museum Nasional Indonesia?

Awal abad ke-19 M, pemerintah Hindia-Belanda berhasil menguasai Kesultanan Palembang secara langsung. Pada 1839 ditempatkanlah seorang residen di Palembang. Bersama dengan tiga senjata upacara yang berharga, satu set pekinangan dibawa oleh pemerintah Belanda dari pedagang Cina Lim Tjip Hiang di Palembang pada 1908. Peralatan pekinangan tersebut ditempatkan di Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yang kini menjadi Museum Nasional Indonesia.

Masyarakat palembang menyebut wadah sirih dengan sebutan Tepak sirih Tepak sirih merupakan tempat atau wadah untuk menyajikan perlengkapan menyirih. “Di dalam kehidupan masyarakat Sumatera Selatan, tempat kinang atau pekinangan biasa disebut sebagai istilah tepak”. Hadirnya tepak sirih Palembang tidak terlepas dari tradisi menyirih yang dimiliki oleh masyarakat Palembang pada masa lampau.

Data Koleksi:

Kotak Pekinangan

Kayu, emas, batu mulia

Palembang, Sumatra Selatan

Sebelum 1908

No. Inv. 13956a-e/E.249a-e

Koleksi Museum Nasional

Sumber:

Handari, Dedah Rufaedah Sri dan Trigangga (Ed). 2017. Buku Panduan Museum Nasional Gedung B. Jakarta: Museum Nasional Indonesia.

Satari, Soejatmi (ed.). 2009. Treasures of Sumatra. Jakarta: Museum Nasional.