Menginang: Tradisi Ramah Tamah Yang Hampir Punah

0
601

Menginang merupakan suatu istilah untuk menyebut suatu kebiasaan mengunyah bahan-bahan paduan antara daun sirih, pinang dan kapur yang pada masa selanjutnya juga dicampur dengan gambir dan juga tembakau. Dahulu, masyarakat Nusantara memiliki kebiasaan menginang. Tradisi menginang berperan penting dalam kesehatan, kegiatan sosial dan upacara. Di pulau Jawa sendiri (Depdikbud 1992:3), pinang dan sirih sudah ada pada beberapa prasasti pada abad ke sembilan sampai abad ke sepuluh masehi. Berita dinasti Sung pada abad ke sepuluh sampai abad ke empat belas masehi mencantumkan sirih dan pinang sebagai salah satu mata dagangan yang diekspor dari pulau Jawa. Pada masa itu, menginang merupakan salah satu bentuk keramahtamahan universal karena dapat dinikmati oleh berbagai kalangan mulai dari anak muda hingga orang tua, mulai dari rakyat biasa hingga raja. Sirih dan pinang  disajikan pada tamu sebagai tanda keramahtamahan, penerimaan dan sopan santun. Di beberapa pulau di Indonesia, menginang juga tidak hanya disuguhkan untuk orang yang masih hidup karena sirih pinang juga merupakan suguhan dalam upacara penguburan bagi  roh orang mati  serta sesaji bagi para leluhur dalam upacara adat. Sirih dan pinang dinilai sebagai obat yang mengandung antiseptik serta sebagai barang kenikmatan.

Berdasarkan gaya ukir dan ragam hiasnya, aneka kriya  wadah pekinangan koleksi Museum Nasional  bergaya dinamis, dan khas .Hal ini sebagai hasil dari akulturasi budaya yang hadir melalui kontak  antara penduduk Nusantara dengan bangsa asing. Selain terbuat dari emas dan batu mulia, wadah pekinangan memiliki variasi bentuk yang unik , mulai dari bentuk hewan mitologi  Paksinagaliman hingga ikan bersayap.  Kebanyakan  binatang mitos ini berbentuk campuran beberapa ciri binatang. Hal ini kemungkinan berhubungan dengan mitologi agama Hindu.Pada upacara- upacara dan mitlogi agama hindu, binatang berfungsi sebagai pembawa atau wadah. Secara simbolis,  benda yang dibawa di  punggung atau perut wadah hewan dipercaya bisa menghubungkan dengan para dewata di dunia atas sana (Brinkgreve 2006:2-15). Wadah pekinangan unik lainnya adalah wadah yang  memadukan bahan baku unik tempurung kelapa coco de mer yang sangat langka dan tak bisa dibudidaya di banyak tempat. Pohon ini hanya tumbuh di Seycelles sebuah negara kepulaian yang terletak di timur laut Madagaskar, Afrika.) Wadah-wadah ini digunakan sebagai tempat ramuan pekinangan  seperti gambir (uncaria gambir), – buah pinang (areca catechu) dan tembakau (Nicotiana tabacuwi ), kapur sirih (calcium exyde), L.)dan wadah untuk meletakkan daun sirih  (Piper betle L.).  Selain itu,  pekinangan selalu disertai dengan alat-alat lainnya seperti kacip (pisau buah pinang) dan paidon (wadah untuk membuang ludah setelah menginang). Di masa modern ini, sudah tidak banyak lagi orang yang menginang. Namun demikian, tradisi menginang masih dapat ditemukan dibeberapa daerah di Indonesia seperti di Nusa Tenggara Timur, Maluku dan Papua.