Jakarta, 28 Maret 2026 — Museum Nasional Indonesia menggelar talkshow publik bertajuk “Ketika Tanggal Bertemu: Akulturasi Imlek, Ramadan, Nyepi, dan Lebaran dalam Sejarah Nusantara”, sebagai respons atas fenomena berdekatannya berbagai perayaan lintas tradisi di Indonesia tahun ini.
Kegiatan ini menyoroti bagaimana momentum pertemuan tanggal tersebut bukan sekadar kebetulan, melainkan cerminan dari sejarah panjang interaksi dan akulturasi budaya di Nusantara yang terus berlangsung hingga hari ini.
Hadir sebagai narasumber, Inayah Wahid dan Eddy Prabowo Witanto, dengan Christopher Reinhart sebagai moderator. Diskusi berlangsung dinamis dengan mengulas beragam perspektif, mulai dari makna kalender dalam sistem budaya, dinamika interaksi lintas budaya dan agama, hingga praktik akulturasi yang tercermin dalam tradisi perayaan di Indonesia.
Dalam sambutannya, Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha, menegaskan bahwa kekuatan Indonesia terletak pada kemampuannya mengelola keberagaman menjadi sumber kreativitas dan persatuan.
“Kita adalah bangsa yang adaptif. Kita menerima, mengambil intisari, dan pada akhirnya menciptakan sesuatu yang baru,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa interaksi budaya yang berlangsung selama berabad-abad telah melahirkan ekspresi-ekspresi khas Indonesia yang menjadi fondasi kuat bagi persatuan bangsa.
“Kebudayaan adalah alat perekat dan pemersatu bangsa,” lanjutnya.
Melalui kegiatan ini, Museum Nasional Indonesia menegaskan perannya sebagai ruang dialog publik yang tidak hanya menyajikan artefak sejarah, tetapi juga menghidupkan kembali narasi keberagaman dan toleransi.
Talkshow yang berlangsung selama sekitar 120 menit ini diikuti oleh berbagai kalangan, termasuk mahasiswa, akademisi, komunitas budaya dan lintas iman, serta masyarakat umum. Format interaktif yang mencakup pemaparan, diskusi, dan tanya jawab membuka ruang partisipasi aktif peserta dalam memahami makna di balik fenomena “tanggal yang bertemu”.
Melalui forum ini, Museum Nasional Indonesia mengajak masyarakat untuk melihat keberagaman bukan sebagai perbedaan yang memisahkan, melainkan sebagai kekuatan yang membentuk identitas Indonesia yang inklusif, majemuk, dan adaptif. (Nurul Indrarini)










