Pameran Sepekan, Gastronosia Pop Up Museum,

0
357

Jakarta – 27 Juni 2022  Indonesia Gastronomi Community (IGC) bekerja sama dengan SIJI Solusi Digital meluncurkan museum gaya pop-up dengan tema Gastronosia: Dari Borobudur untuk Indonesia.  Pop up museum Gastronosia menggambarkan mahakarya kuliner asli Indonesia Abad VIII – X  di era Kerajaan Mataram Kuno.

Ria Musiawan, selaku Ketua Umum IGC mengatakan, “Gastronosia ini tidak akan berhasil tanpa dukungan pemerintah yang mengangkat tema budaya dalam makanan dan upaya diplomasi gastro, terutama dari Kementerian Pendidikan dan Budaya, RISTEK dan Kemenko Kemaritiman dan Investasi RI dengan kampanye “Spice Up the World.” 

Gilang Wicaksono sebagai ketua penyelenggara kegiatan Gastronosia menyatakan bahwa pop up museum ini sangat relevan dengan kekinian karena menggunakan pendekatan experiential – yaitu memberi pengalaman yang berbeda bagi pengunjung. Makanan tidak hanay disajikan dalam bentuk foto, namun juga video dan tiga dimensi.”

Direktur Utama Siji Solusi Digital, Dimas Fuady mengatakan, “museum ini dirancang dalam lima segmen, pertama akan menjelaskan konsep Gastronosia, kemudian perihal Borobudur dan relief terkait makanan Mataram Kuno, ragam makanan di era tersebut, dapur masa lalu dan kini, dan penerjemahan ke dalam makanan modern.”  Lanjutnya, “Kurator dari museum ini adalah ahli dari SIJI Agit Maulana, dan tim dari IGC Nia Sarinastiti dan Sumartoyo, dengan pendampingan Riris Purbasari dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Jawa Tengah. Jadi pengunjung selain belajar sejarah, juga belajar tentang kekayaan makanan kita.”

Chef Sumartoyo, selaku curator yang merekonstruksi makanan mengatakan bahwa perjalan dalam membuat rekonstruksi makanan dimuali sejak 2017 oleh tim dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Jawa Tengah.   Makanan yang terdapat pada relief di candi tidak sebanyak yang ada di relief, karena gambar tidak bisa menjelaskan secara ditel. 

“Makanan yang diangkat di pop-up museum adalah yang dipergunakan pada jamuan upacara penetapan Sima, yang mengabiskan beras 57 kadut, menyembelih 6 kerbau, dan ayam 100 ekor, lnajut Sumartoyo. “Disajikan pula lauk pauk yang asin seperti dendeng asin, dendeng ikan kadiwas, ikan kawan, ikan bilunglung, telur, dan mimunan tuak . Variasi makanan yang tersaji dalam sumber prasasti Taji Gunung menggambarkan aspek perikanan, pertanian, dan peternakan pada masa Kerajaan Mataram Kuno.

Koordinator program talk show Renno Reymond menyampaikan. “Beberapa talkshow akan terselenggara untuk menambah pengetahuan dan informasi bagi khalayak umum akan khasanah gastronomi Indonesia khususnya makanan Mataram Kuno, memahami kemegahan gastronomi Indonesia serta memajukan gastro-diplomasi Indonesia. Selain itu talkshow akan mengangkat beberapa topik istimewa antara lain Gasto Diplomasi Dalam Perspektif Indonesia, Story Telling Untuk Memperkenalkan Gastronomi Indonesia serta Gastro Marketing Bagi Pelaku Usaha Restoran dan Industri Terkait ” dengan narasumber  Paramitaningrum PhD – Dewan Pengurus IGC dan Dosen Hub Internasional, Yusron Ambhary- Kementerian Luar Negeri RI – Direktur Diplomasi Publik, Dr. Bondan Kanumoyoso – Pakar Sejarah dan Dekan Fak Ilmu Pengetahuan Budaya, Gunawan Satyono – Praktisi, Media dan Penulis Konten Kuliner, Vishal Kumar – Dewan Pengurus IGC dan Pengelola Cloud Kitchen, Susilo Dwi H – Praktisi dan Dosen Komunikasi Pemasaran, dan Thea Magdalena – Pelaku Usaha Gastronomi dan Pemilik Resto Jamuan. Adapun jadwal  talks show adalah sebagai berikut : Tanggal 28 Juni 2022, 30 Juni 2022 dan 1 Juli 2022 Pukul 14.00 – selesai

Pada bulan Oktober lalu IGC menyelenggarakan acara yang berkonsep pada perjalanan untuk memaknai sejarah gastronomi Jawa Kuno Abad VIII-X berupa Gastronosia Tour,  pameran rekonstruksi Makanan Kuno Abad VIII-X Masehi, dan gala dinner.

Tahun lalu IGC dan SIJI juga telah meluncurkan Museum Gastronomi Indonesia (MGI) sebagai wadah yang berisi informasi tentang cerita sejarah, asal-usul, proses akulturasi budaya dari berbagai masakan yang dihidangkan dan dikonsumsi sehari-hari

Pop up museum dapat dikunjungi di Museum Nasional dari tanggal 28 Juni pukul 10.00 hingga 16.00.   Pada tanggal 28 Juni, 30 Juni dan 1 Juli akan diselenggarakan talkshow dengan agenda sebagai berikut:

Gastronosia akan berkeliling ke berbagai museum di tiga kota, selain Jakarta, yaitu Surabaya, Yogyakarta dan Denpasar.   

Indonesian Gastronomy Community (IGC) sebuah komunitas non-profit Pecinta Makanan Indonesia yang mempunyai visi sebagai pelestari makanan dan minuman Indonesia beserta budayanya guna memajukan Indonesia.

Sebagai rangakaian kegiatan Gastronosia Pop Up Museum, akan diselenggarakan beberapa talk show di ruang temporer Museum Nasional Tujuan talkshow ini adalah untuk menambah pengetahuan dan informasi bagi khalayak umum akan khazanah gastronomi Indonesia khususnya makanan Mataram Kuno, memahami kemegahan gastronomi Indonesia serta memajukan gastro-diplomasi Indonesia.


Talkshow mengangkat beberapa topik istimewa yaitu Gastro Diplomasi dalam Perspektif Indonesia, Story Telling Untuk Memperkenalkan Gastronomi Indonesia serta Gastro Marketing Bagi Pelaku Usaha Restoran dan Industri Terkait. Talkshow akan dilakasnakan pada tanggal 28 Juni 2022, 30 Juni 2022 dan 1 Juli 2022 Pukul 14.00 – selesai.