Mengenang Perang Korea Melalui Pameran Korea’s DMZ

0
132
Sumber: Dokumentasi Museum Nasional

Musim salju saat itu terasa lebih dingin dari biasanya. Putihnya salju terpaksa dinodai dengan merahnya darah yang tumpah. Pemandangan yang indah, kehidupan flora dan fauna yang memukau seketika punah dengan meletusnya Perang Korea. Minggu, 25 Juni 1950 menjadi titik awal meletusnya perang yang terjadi antara Korea Selatan dan Korea Utara. Tiga juta jiwa menjadi korban meninggal, sedangkan sepuluh juta anggota keluarga harus terpaksa terpisah. Hingga akhirnya, perang berakhir dengan ditanda tanganinya Perjanjian Gencatan Senjata di Panmunjom.

Korea’s DMZ Exhibition

DMZ (Demilitarized Zone) sudah lama menjadi zona tanpa manusia. Larangan secara ketat diberlakukan bagi masyarakat umum. Mereka yang memiliki akses masuk hanyalah para pasukan khusus yang mendapatkan izin sejak 50 tahun lalu.

Korea’s DMZ; In Search for the Land of Peace and Life Photographic Exhibition of Choi Byung Kwan ini berlangsung pada 25 Juni hingga 20 Juli 2019 di Museum Nasional Indonesia. Bekerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Korea di Indonesia, 65 foto hasil tangkapan dari Choi Byung Kwan ditampilkan dengan sangat indah. Tidak hanya foto, disajikan juga video terkait peristiwa-peristiwa yang terjadi selama Perang Korea. Melalui pameran ini Choi Byung Kwan menyampaikan perasaannya akan tragedi menyedihkan yang pernah terjadi di negaranya.

“Foto-fotonya bagus. Miris rasanya lihat foto-foto bekas peninggalan perang begitu. Fotonya bisa cerita, jadi dapet banget perasannya,” ujar Bayu, salah satu pengunjung Pameran Korea’s DMZ.

Hasil foto disajikan dengan subtema berdasar objek yang terbidik. Adapun subtema tersebut dibagi menjadi tiga, yakni Pemandangan Asing dari Garis Batas 155 Mil (Unfamiliar Landscape of the 155 Miles Tracer Line), Para Penjaga Pagar Pos GOP (People Who Guard the GOP Fence), Bekas Luka dan Perdamaian dari Perang (Scars and Peace of War). Berbagai foto yang tersaji memiliki ceritanya masing-masing, mulai dari satu-satunya pohon yang tersisa dan dapat hidup di wilayah perang, para penjaga pagar yang tengah berjaga saat matahari terbenam, hingga sebuah helm peninggalan tentara yang telah meninggal yang ditumbuhi oleh bunga yang sangat indah.

Sumber: Korea’s DMZ – Museum Nasional

Sekilas Tentang Choi Byung Kwan.

Choi Byung Kwan merupakan seorang fotografer dan penyair. Beliau adalah fotografer sipil pertama yang berkesempatan untuk mengabadikan peninggalan yang terdapat di garis batas sepanjang 249 kilometer ini. Beliau telah mengadakan pameran foto sebanyak 43 kali, baik yang berasal dari luar negeri maupun dalam negeri, beberapa diantaranya adalah pameran foto demi Perdamaian Semenanjung Korea di Berlin, Pameran Istimewa Dorasan (gunung Dora) serta di Museum Nasional. Dalam karya fotografinya ini, ia telah memotret sejumlah foto melalui jalur 155 mil di wilayah DMZ pada tahun 1997 – 1998 dan 2000 – 2003.

Selain karya fotografi, beliau juga telah memublikasikan 26 buku berisi foto-foto, 4 buku esai serta 3 buku berisi puisi dan foto. Salah satu bukunya yang berjudul My Mother’s Silk Road terpilih menjadi buku terbaik oleh Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Republik Korea. Beliau juga telah mendapatkan beberapa penghargaan tinggi yakni Penghargaan Presiden Republik Korea, penghargaan dari Menteri Luar Negeri dan Perdagangan, Penghargaan Budaya Kota Incheon, Penghargaan Budaya DMZ, serta banyak penghargaan lain yang diterimanya.

Choi Byung Kwan mengatakan bahwa kesempatan untuk mengambil foto di DMZ justru mendatangkan perasaan sedih untuknya. Melihat langsung peninggalan atas perjuangan untuk negaranya, sisa reruntuhan yang menjadi saksi bisu, hingga peninggalan kerangka yang tertembus peluru yang telah berkarat. Kesempatan untuk memasuki wilayah DMZ yang dianggap sebagai tanah kematian dan keputusan membuatnya berharap agar DMZ bisa menjadi tanah penuh harapan dan masa depan serta berdoa untuk perdamaian negaranya.