Konservator: “Dokternya” Koleksi Museum Nasional

0
451

Para ‘dokter’ ini merupakan tim Bidang Perawatan dan Pengawetan, Museum Nasional Indonesia (MNI), yang bekerja di “belakang layar” melakukan pekerjaan konservasi untuk memastikan keterawatan koleksi MNI. Koleksi-koleksi ini merupakan koleksi terpilih (masterpieces) yang merupakan bukti puncak-puncak peradaban budaya masyarakat Indonesia, sehingga keberadaannya harus dilestarikan dalam kondisi yang baik agar nilai-nilai dan berbagai kearifan yang terkandung di dalamnya dapat terjaga.
Koleksi-koleksi MNI yang rata-rata telah berumur relatif tua dan rapuh selalu rentan oleh serangan hama perusak, vandalisme, dan pengaruh kondisi lingkungan sekitar. Untuk memastikan kebersihan, keterawatan, dan kelestarian aset bangsa yang sangat bernilai dan jadi kebanggaan Bangsa Indonesia, pekerja konservasi yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu secara intensif melakukan kegiatan observasi, perawatan, dan pengawetan.
Kegiatan konservasi menjadi sebuah pekerjaan yang seolah tiada habisnya mengingat Museum Nasional Indonesia memiliki lebih dari 153.000 koleksi. Konservator MNI secara rutin berkeliling memantau kondisi keterawatan koleksi, termasuk jika ada laporan dan masukan dari petugas museum maupun pengunjung. Semua koleksi MNI, baik yang dipamerkan maupun disimpan dalam storage, tidak boleh lepas dari pengamatan dan penanganan tenaga konservasi.

Konservator melakukan kegiatan fumigasi koleksi-koleksi naskah lama yang tersimpan di Perpustakaan Museum Nasional (Foto : Mulyadi)

 

 

 

 

 

 

Konservasi tidak hanya sekadar membersihkan koleksi dari debu atau kotoran lainnya. Koleksi museum yang terbuat dari berbagai material harus dikaji di laboratorium, dipantau dan didokumentasikan secara berkala untuk mengetahui kondisinya secara detail. Apakah ada noda, jamur, rayap, atau karat? Semua koleksi harus didata dan ditangani dengan teliti dan tepat, agar selalu tampak bersih dan utuh seperti aslinya.
PEKERJA KONSERVASI DI MNI berasal dari beragam latar belakang keilmuan sains, antara lain dari bidang kimia, biologi, dan pertanian. Selain itu juga melibatkan berbagai disiplin ilmu lain terkait, seperti seni rupa, sejarah, antropologi, dan arkeologi, yang terampil dan dididik melalui berbagai pelatihan dan seminar tingkat nasional atau internasional. Para konservator MNI juga selalu mengikuti perkembangan metode, teknologi, dan bahan konservan yang diaplikasikan oleh museum-museum besar di seluruh dunia. Untuk konservator senior MNI, bahkan telah diminta menjadi narasumber di berbagai seminar dan pelatihan konservasi, baik di dalam maupun di luar negeri.
Narasumber ahli kimia dari perguruan tinggi terkemuka, ahli serangga dari lembaga-lembaga ilmu pengetahuan, dan praktisi museum yang berkompeten pun secara berkala diundang dalam bimbingan teknis atau seminar yang digelar oleh MNI. Pada tahun 2016, misalnya, Museum Nasional dan CollAsia mengundang Dr Dinah Eastop, konsultan dalam bidang Kajian Konservasi dan Kebudayaan Materi dan pengajar tamu di Institut Arkeologi, University College London, Inggris, dalam seminar yang bertema “Conservation and Use of Collections”. Seminar ini bertujuan meningkatkan kemampuan SDM di bidang pelestarian koleksi/benda budaya, sehingga peserta seminar dari program CollAsia dan praktisi museum dari berbagai negara seperti Bhutan, Brunei Darusaalam, Kamboja, Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, Nepal, dan Indonesia dapat bertukar informasi terkait konservasi koleksi museum.
DALAM PEKERJAAN KONSERVASI dilakukan pengecekan dan pengendalian lingkungan, baik dalam lingkungan makro (area seluruh gedung museum) maupun lingkungan mikro (area dalam vitrin dan lemari pameran). Pengukuran suhu, kelembapan udara, dan intensitas cahaya di ruang pamer maupun storage selalu dilakukan secara rutin.
Jika masing-masing ukuran komponen tersebut melebihi standard, maka harus dilakukan rekayasa pengendalian lingkungan. Kelebihan kadar air relatif di udara (kelembaban) diturunkan dengan menggunakan dehumidifier dan silica gel agar koleksi dari kayu, tekstil, dan kertas tidak terserang jamur. Intensitas pencahayaan di ruang pamer yang terlalu tinggi (lebih dari 50 lux) juga harus diganti atau dikurangi dengan memasang filter agar koleksi tekstil tidak lekas pudar.
Kerap bersinggungan dengan bahan konservan yang bersifat kimia, para konservator di MNI termasuk golongan yang paling mudah terpapar dan terkena dampaknya. Penyakit-penyakit seperti gangguan pernapasan, gatal-gatal, dan lainnya kerap menjangkiti para pekerja konservasi. Untuk itulah selalu dilakukan pengujian bahan konservan untuk menemukan formula yang cocok dan efektif dalam membersihkan dan membasmi hama perusak koleksi, tetapi juga aman bagi orangnya.
Teknik konservasi yang ramah lingkungan terus dikembangkan oleh para konservator di MNI agar tidak membahayakan koleksi dan manusia. Untuk itu, dilakukan sejumlah kajian guna menemukan beberapa formula bahan konservan yang pas dalam perawatan dan pengawetan koleksi.
Para konservator mengembangkan dan memanfaat-kan teknik fumigasi dengan menggunakan gas N2 (An-oxide). Teknik ini bekerja dengan melingkupi penyimpanan koleksi yang tertutup dengan gas N2 agar tidak ada oksigen bagi serangga untuk tumbuh, sehingga teknik ini lebih ramah lingkungan. Teknik ini mulai menggantikan penggunaan Phostoxin berbentuk tablet yang diletakkan dalam ruang penyimpanan tertutup yang akan menyublim untuk membunuh serangga.
LABORATORIUM ADALAH “RUMAH KEDUA” bagi para konservator. Laboratorium digunakan untuk pekerjaan konservasi yang membutuhkan penanganan tingkat lanjut seperti patah, cat terkelupas, tekstil yang rapuh, atau logam karat yang aktif. Biasanya penanganan seperti itu membutuhkan bahan konservan yang lebih kuat, sehingga tim konservasi harus menjaga keamanan pengunjung museum.
Koleksi dengan tingkat kerusakan ringan, misal kotor dan debu, bisa dilakukan di ruang pameran. Biasanya di tempat inilah pengunjung bisa melihat dan mempelajari cara kerja para ‘dokter’ ini secara langsung. Penanganan tingkat lanjut juga bisa dilakukan di ruang pameran apabila ukuran koleksinya terlalu besar, dengan catatan area konservasi harus ditutup untuk menjaga kenyamanan dan keamanan pengunjung.
Terkait dengan kegiatan revitalisasi museum yang sedang berjalan saat ini, Museum Nasional sedang membangun laboratorium konservasi yang lebih representatif dibandingkan laboratorium yang dimiliki saat ini di gedung baru (Gedung C). Laboratorium baru ini direncanakan mampu lebih mendukung kinerja Bidang Perawatan dan Pengawetan baik dari keamanan, kebersihan, dan penyimpanan koleksi. Ruang-ruang dalam laboratorium baru akan bebas serangga dengan kondisi lingkungan yang terkendali, sehingga koleksi yang dipamerkan atau disimpan di dalamnya akan terjamin kelestariannya.
ITULAH PERAN PENTING pekerja konservasi koleksi di MNI. Mereka bekerja di tempat yang senyap, di bagian yang tersembunyi, berkutat dengan sarana dan bahan-bahan kimia yang relatif berbahaya demi indahnya koleksi museum yang dipamerkan. Koleksi MNI harus dapat diwariskan kepada generasi penerus, agar dapat menjadi media dalam pendidikan dan pencerdasan masyarakat, dalam rangka pembentukan karakter Bangsa.

(Penulis : Dani Wigatna dalam Warta Museum tahun XII No. 12 Tahun 2017)