Ibu Kota Baru dan Sejarah Peradabannya

Kutai Kartanegara, wilayah yang digadang-gadang akan menjadi ibu kota baru ini secara historis pernah terlibat sebagai kawasan perpolitikan Nusantara.

0
164
Prasasti Mulawarman - Sumber: Dokumentasi Museum Nasional

Saat ini tengah hangat diperbincangkan mengenai keputusan Presiden yang memindahkan ibu kota ke pulau Kalimantan. Keputusan yang dinyatakan pada Minggu (25/8) lalu tentunya menuai banyak pro dan kontra. Dalam konferensi persnya itu pun, Presiden Joko Widodo tidak luput dalam menjawab pertanyaan yang sering ditanyakan.

Rencana pemindahan ibu kota bukan hanya hangat saat ini saja. Sebelumnya, bahkan sejak era pemerintahan presiden pertama Republik Indonesia, Sekarno, rencana pemindahan ibu kota ini sudah digaungkan. Pemindahan ibu kota ini diharapkan dapat mengurangi kesenjangan yang kini ada di Indonesia.

Jakarta, dan atau pulau Jawa, dianggap sudah menanggung beban yang sangat berat. Seperti yang diketahui saat ini, Jakarta sudah menjadi pusat bisnis, pemerintahan, bandar udara, pelabuhan serta pusat kegiatan lainnya.

“Lokasi ibu kota baru yang paling ideal adalah di sebagian kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian di kabupaten Kutai Kartanegara,” Tutur Joko Widodo.

Dipilihnya Kalimantan Timur sebagai lokasi ibu kota yang baru adalah lokasinya yang berdekatan dengan dua kota besar, yakni Balikpapan dan Samarinda. Kalimantan Timur juga merupakan daerah dengan risiko bencana yang minim. Pemerintah juga sudah memiliki lahan seluas 180.000 hektare dan Kalimantan Timur dinilai telah memiliki infrastruktur yang layak.

Kutai Kartanegara, wilayah yang digadang-gadang akan menjadi ibu kota baru ini secara historis pernah terlibat sebagai kawasan perpolitikan Nusantara. Pada tujuh belas abad yang lalu, sebagaimana yang tertulis pada prasasti tertua yang ditemukan di tempat itu serta bukti-bukti lainnya, Kutai merupakan awal mula periode sejarah bangsa.

Di kabupaten Kutai Kartanegara, tepatnya di Muara Kaman, disebut-sebut sebagai sentral kerajaan Hindu pada abad keempat. Salah satunya dibuktikan oleh ditemukannya prasasti Yupa. Selain penemuan prasasti, ditemukan juga jejak-jejak kerajaan Kutai Martadipura (Martapura).

Berdasar pada hasil penelitian para arkeolog, kerajaan tertua di Kalimantan Timur tersebut juga telah menjalin hubungan perdagangan internasional. Martapura, pada masa kejayaannya memiliki jalinan hubungan dagang dengan bangsa luar seperti Cina dan India. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya benda-benda kuno seperti peninggalan keramik dan guci dari Cina dan India.

Hubungan Tiongkok dan Nusantara

Pemindahan ibu kota ini tidak jauh-jauh dari adanya kontraversi. Berbagai isu beredar terkait pemindahan ibu kota ke pulau Kalimantan. Terdapat narasi bahwa dengan pindahnya ibu kota, maka Indonesia akan mudah mendapat serangan asing. Narasi yang beredar ini seringkali dikaitan dengan etnis Tionghoa atau Cina.

Nyatanya, pada masa Dinasti Ming, hubungan baik Tiongkok dan Nusantara mencapai puncaknya. Hal ini dibuktikan dengan Laksamana Cheng Ho yang melakukan muhibah sebanyak tujuh kali. Hubungan yang sangat baik ini membuat Dinasti Ming menyusun kamus bahasa Melayu – Tionghoa yang disebut Man La Jia Yi Yu atau yang berarti Kumpulan Kata-kata Negeri Malaka.

Beberapa etnis Tionghoa juga dikatakan turut andil dalam pergerakan nasional Indonesia. Misalnya beberapa dari etnis Tionghoa terlibat dalam Sumpah Pemuda, Partij Tionghoa Indonesia, hingga Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Salah satu tokohnya adalah Liem Koen Hian yang merupakan pendiri Partij Tionghoa Indonesia.

Tidak selamanya hubungan baik Tiongkok dan Indonesia baik-baik saja, hubungan ini juga mengalami pasang-surut. Salah satu peristiwanya adalah masalah dwikewarganegaraan yang mengakibatkan puluhan ribu etnis Tionghoa harus terusir dari daerah-daerah. Efek dari peristiwa ini mencapai pada pembekuan hubungan Tiongkok-Indonesia pada 1967.

Namun, hubungan ini kembali membaik setelah rezim orde baru berganti. Semenjak reformasi dan demokrasi, Tiongkok kembali menjalin hubungan dengan Indonesia. Kemitraan strategis dijalin untuk sama-sama memajukan dan memnuhi kepentingan antara kedua negara.

Pasasti Yupa – Sumber: Dokumentasi Museum Nasional

Hubungan India dan Nusantara

Berbeda halnya dengan hubungan dagang dan perpolitikan dengan Tiongkok, India dan Nusantara lebih mengarah kepada hubungan kebudayaan. Sebagaimana sumber-sumber yang ada dan bukti-bukti sejarah yang ditemukan, India lebih banyak memberikan pengaruh kebudayaan terhadap Nusantara.

Pengaruh besar yang terlihat adalah masuknya ajaran Hindu-Buddha ke Indonesia. Bisa dikatakan ajaran Hindu-Buddha merupakan ajaran tertua yang menyebar di Indonesia. Disebarkan oleh para pedagang dari India yang kemudian ajaran ini menyebar dari satu tempat dan meluas ke tempat lainnya.

Corak pengaruh budaya Hindu-Buddha sangat banyak ditemukan pada benda-benda peninggalan sejarah. Arca, Prasasti, hingga dalam kaitannya dengan kesusastraan. Kutai, menjadi kerajaan dengan corak Hindu pertama di Nusantara.

Corak Hindu pada kerajaan Kutai terlihat pada prasasti Yupa. Prasasti Yupa ditulis menggunakan huruf Pallawa dengan bahasa Sanskerta. Pada prasasti Yupa dituliskan bahwa kerajaan Kutai memiliki tradisi upacara-upacara di tempat suci.

Dalam suatu prasasti disebutkan pula sebuah tempat bernama Vrapakecvara, yang berarti lapangan luas untuk pemujaan. Vrapakecvara memiliki kaitannya yang erat dengan kegiataan agama Siwa. Maka, kerajaan Kutai dapat disimpulkan menganut ajaran Siwa.