Forma dan Konstruksi UMA LENGGE

0
366
FORMA
Uma Lengge berbentuk segitiga lancip pada bagian atas dengan panggung yang terbentuk dari empat tiang di bagian bawahnya. Bentuknya yang panggung berguna untuk menghindar dari binatang liar, dan juga agar rumah tetap kuat ketika gempa menyerang lereng Gunung Lambitu. Jika dilihat dari kejauhan, Uma Lengge terlihat seperti limas. Tidak terlihat adanya pintu maupun jendela, hanya sebuah prisma berlapis alang-alang yang rapat. Ketika didekati, terdapat sebuah teras di bagian bawah dengan tangga yang bersandar di sana.
Teras bagian bawah berbentuk persegi mengelilingi empat tiang utama dengan susunan pelepah pinang yang membentuk lantainya. Terdapat juga sebuah ekstensi lantai pada bagian utara, atau disebut juga sencaka. Pada bagian teras tersandar dua tangga. Satu untuk naik ke atas teras dan sencaka (teras tambahan), dan satu lagi adalah tangga yang menuju ke pintu masuk Uma Lengge yang terdapat pada bagian dasar segitiga. Bagian segitiga ini berperan sebagai dinding sekaligus atap dari Uma Lengge. Bagian ini terbagi menjadi dua lantai. Lantai bagian bawah yang lebih luas menjadi ruang untuk penghuni rumah beraktivitas, sementara di bagian atas digunakan sebagai tempat penyimpanan padi dan hasil ladang.
Ilustrasi (Kiri)
(Atas) Bentuk Segitiga Lancip
(Tengah) Lengge dari kejauhan
(Bawah) Teras Uma Lengge
Foto (Kanan)
dari atas kebawah
(Atas) Tiang Utama Lengge
(Tengah) Pelepah Pinah
(Bawah) Alang-alang pada atap Lengge
KONSTRUKSI
UMA LENGGE
Pembangunan Uma Lengge dimulai saat peletakan batu yang menjadi pondasi utama dari rumah lalu dilanjutkan dengan pendirian empat tiang utama yang disebut ri’i.
Konstruksi yang hanya menggunakan batu dan tiang ini membuat Uma Lengge menjadi tahan akan guncangan gempa.
Pembangunan Uma Lengge dimulai saat peletakan batu yang berperan sebagai pondasi Lalu, tahapan selanjutnya dilanjutkan dengan mendirikan empat buah tiang yang disebut ri’i, bagian ini menjadi struktur utama yang menopang Uma Lengge.
Pada ri’i terdapat sebuah penopang yang digunakan untuk meletakan nggapi, yaitu balok yang membentuk bagian teras. Nggapi diikat dengan balok tersebut untuk memperkokoh bagian panggung dan disambungkan ke ri’i.
Ri’i yang telah berdiri dihubungkan dengan nggapi melalui tjeko sehingga dapat memperkokoh pendirian ri’i.
Saksikan Pameran Ekskursi Bima yang mengupas tentang arsitektur vernakular dan  segala hal tentang kearifan lokal di Bima.
mulai tanggal 9 sampai 20 Januari 2018, Selama jam buka Museum.
Acara ini terselenggara atas kerjasama Departemen Arsitektur UI dengan Museum Nasional
Sumber : Buku Bima : Antara Padi dan Arsitektur